Nama : Syafiah Syafri
NIM : 1801430350
Tanggal : 21 Maret 2015
-Latar Belakang Run for Leprosy
Polkadot Leprosy RUN adalah sebuah kegiatan yang
menunjukan kepedulian kita dengan sesama kita terlebih mereka yang sedang sakit
atau sudah sembuh dari KUSTA. Kegiatan ini adalah kegiatan sosial, dimana
hasilnya 100% akan di sumbangkan dan di gunakan bagi komunitas kusta.
Acara ini dilaksanakan
pada hari Minggu, 15 Maret 2015 di Alam Sutera tepatnya di Main Campus Binus
University. Acara ini juga merupakan kerja sama dari TFI dengan Binus
University.
-Kesan/pengalaman
Saya
merupakan peserta dari Binus University yang mengikuti kategori 5k bersama
teman-teman saya. Menurut pengumuman, peserta harus berkumpul paling lambat 1
jam sebelum acara dimulai. Maka dari itu saya sudah mempersiapkan diri sebelum
waktu 'deadline'. Karena dianjurkan untuk tidak memakan sarapan terlalu berat
sebelum olahraga pagi, saya memakan roti dan susu untuk sarapan.
Sesampainya
di wilayah kampus Binus, waktu telah menunjukkan pukul 05.05. Saya
bergegas menuju main kampus karena sudah terdengar suara ramai yang berasal
dari sana. Suasana main kampus sangat ramai. Dipenuhi dengan peserta-peserta
yang berpastipasi dari kalangan mahasiswa binus maupun dari kalangan masyarakat
di luar Binus.
Saya
segera memasang nomor punggung peserta di baju saya dan menyusul teman-teman
saya di tempat janjian. Saya sempat keliling-keliling kawasan acara untuk
melihat apa-apa saja yang disediakan disana.
Sebelum lari, saya juga ikut senam bersama
sebagai pemanasan sebelum lari.
Pukul
05.50, para peserta kategori 10k sudah berbaris di depan garis start. Tepat
pukul 06.00, peserta memulai lari dari garis start. Tak lama setelah itu peserta kategori 5k mulai berbaris di depan
garis start. Saya bersama teman-teman saya ikut berbaris dengan posisi yang
lumayan di bagian depan. Pukul 06.15, sirine berbunyi dan kami mulai berlari
meninggalkan garis start.
Kami berlari dengan antusias, ada
bebeberapa dari teman saya yang sangat bersemangat dan terus berlari kedepan.
Karena ukuran badan saya yang agak tak memungkinkan, saya mulai berhenti
berlari dan mulai jalan santai. Setelah beberapa saat istirahat, saya mulai
lari lagi.
Kami
berjalan sambil bercanda bersama. Tak terasa 2.5 kilometer telah terlewati.
Terlihat ada beberapa stand yang mengediakan minuman untuk para peserta. Karena lupa membawa botol
minum, saya langsung menyambar dan meneguk satu botol mineral gelas. Setelah
kembali marasa fresh, saya dan teman-teman saya kembali berlari melewati
bundaran di depan KFC Alam Sutera. Setelah tak kuat terus berlari, kami kembali
berjalan santai sambil mengobrol bersama.
Saya
dan teman-teman saya sudah mulai mendekati mall Alam Sutera. Memang tak terasa
telah melewati hampir 5 kilometer, namun sakit di kaki tetap terasa. Tetapi
kami tak patah semangat dan tetap antusias.
Kami
pun sampai di garis finish. Saya menghela nafas lega sepanjang-panjangnya.
Panitia-panitia juga membagi-bagikan medal untuk peserta yang telah mencapai
garis finish. Mereka juga memberi sebotol air mineral dan pisang. Karena tak
kuat berdiri, kami sepakat untuk duduk.
Dengan
kaki yang terlentang, kami mulai menyantap pisang dan minum air mineral bersama
sambil mengobrol. Setelah puas beristirahat, kami pun memutuskan untuk
meninggalkan area kampus pada pukul 08.90.
Penyakit kusta atau lepra (leprosy) atau disebut juga Morbus Hansen,
adalah sebuah penyakit infeksi menular kronis yang disebabkan oleh bakteri
Mycobacterium leprae. Indonesia dikenal sebagai satu dari tiga negara yang
paling banyak memiliki penderita kusta. Dua negara lainnya adalah India dan
Brazil.
Penyakit kusta disebabkan oleh kuman yang
dimakan sebagai microbakterium, dimana microbacterium ini adalah kuman aerob,
tidak membentuk spora, berbentuk batang yang tidak mudah diwarnai namun jika
diwarnai akan tahan terhadap dekolorisasi oleh asam atau alkohol sehingga oleh
karena itu dinamakan sebagai basil “tahan asam”.
Mekanisme penularan yang tepat belum
diketahui. Beberapa hipotesis telah dikemukakan seperti adanya kontak dekat dan
penularan dari udara. Dan diduga faktor genetika juga ikut berperan, setelah
melalui penelitian dan pengamatan pada kelompok penyakit kusta di keluarga
tertentu. Belum diketahui pula mengapa dapat terjadi tipe kusta yang berbeda
pada setiap individu.
Tanda-tanda :
Tanda-tanda penyakit kusta bermacam-macam, tergantung dari tingkat atau
tipe dari penyakit tersebut. Secara umum, tanda-tanda itu adalah :
- Adanya bercak tipis seperti panu pada badan/tubuh manusia
- Pada bercak putih ini pertamanya hanya sedikit, tetapi lama-lama
semakin melebar dan banyak.
- Adanya pelebaran syaraf terutama pada syaraf ulnaris, medianus,
aulicularis magnus seryta peroneus. Kelenjar keringat kurang kerja
sehingga kulit menjadi tipis dan mengkilat.
- Adanya bintil-bintil kemerahan (leproma, nodul) yarig tersebar pada
kulit
- Alis rambut rontok
- Muka berbenjol-benjol dan tegang yang disebut facies leomina (muka
singa)
Gejala-gejala umum pada lepra,
reaksi :
- Panas dari derajat yang rendah sampai dengan menggigil.
- Anoreksia.
- Nausea, kadang-kadang disertai vomitus.
- Cephalgia.
- Kadang-kadang disertai iritasi, Orchitis dan Pleuritis.
- Kadang-kadang disertai dengan Nephrosia, Nepritis dan
hepatospleenomegali.
- Neuritis.
Hingga saat ini tidak ada vaksinasi untuk penyakit kusta. Dari
hasil penelitian dibuktikan bahwa kuman kusta yang masih utuh bentuknya, lebih
besar kemungkinan menimbulkan penularan dibandingkan dengan yang tidak utuh.
Jadi faktor pengobatan adalah amat penting dimana kusta dapat dihancurkan,
sehingga penularan dapat dicegah.
Secara garis besar, kusta dibagi menjadi dua golongan, pertama adalah
tuberkuloid dan yang kedua dikenal dengan lepromatosa. Keduanya sama-sama
menyebabkan luka pada bagian kulit, namun yang kedua memiliki daya rusak lebih
kuat, biasanya muncul benjolan di area kulit.
Kusta merupakan penyakit menahun yang menyerang syaraf tepi, kulit dan
organ tubuh manusia yang dalam jangka panjang mengakibatkan sebagian anggota
tubuh penderita tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Meskipun infeksius,
tetapi derajat infektivitasnya rendah. Waktu inkubasinya panjang, mungkin
beberapa tahun, dan tampaknya kebanyakan pasien mendapatkan infeksi sewaktu
masa kanak-kanak.
Kelompok yang berisiko tinggi terkena kusta adalah yang tinggal di daerah endemik dengan kondisi yang buruk seperti tempat tidur yang tidak memadai, air yang tidak bersih, asupan gizi yang buruk, dan adanya penyertaan penyakit lain seperti HIV yang dapat menekan sistem imun. Pria memiliki tingkat terkena kusta dua kali lebih tinggi dari wanita.





